Arti Lambang

Sejarah Penyusunan Lambang Desa

Berdasarkan musyawarah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Padangsambian Kaja, dibentuk Tim Penyusun Lambang Desa pada tanggal 14 Januari 1983 dengan nama "Tim/Panitia Sembilan" dengan anggota:

Penasehat : I Ketut Rumasa (saat itu menjabat sebagai Perbekel/Kepala Desa Padangsambian Kaja)

Ketua : I Wayan Beratha Subawa

Wakil Ketua : I Made Meja, BA

Sekretaris : I G K Sukarta Wirawan

Anggota :

  1. I Wayan G. Adnyana
  2. I Made Dania
  3. I Made Widarta Astawa
  4. I Made Sana Astaya
  5. I Gusti Ngurah Sudharma
  6. I Nyoman Suda

Tim ini dibebani tugas untuk menyelesaikan lambang tersebut paling lambat tanggal 7 Maret 1983 disaat penyelenggaraan Temu Karya LKMD Kecamatan Denpasar Barat.

Mengingat waktu yang sangat mendesak dan kelahiran lambang desa dirasakan belum dapat menyerap aspirasi desa seperti yang diharapkan, maka dalam Raker II LKMD tanggal 27 Januari 1985 dibahas lagi untuk disempurnakan dan pada Raker III LKMD tanggal 27 Maret 1986, maka lahirlah Lambang Desa Padangsambian Kaja.

Anggota Tim Penyusun Lambang terdiri dari berbagai unsur, pemuka agama, seni budaya desa dan pemuka masyarakat dengan memperoleh masukan dari berbagai pihak seperti dari Kantor Agama, Kantor Pendidikan dan Kebudayaan, Listibya, serta dari Parisadha Hindu Dharma, pemuda dan perorangan pengelingsir Desa.

(disempurnakan dari sumber : I Ketut Rumasa, Kata Pengantar Perbekel Padangsambian Kaja/Ketua Umum LKMD Padangsambian Kaja tanggal 20 September 2017 dalam Buku Lambang Desa Padangsambian Kaja).

Arti Lambang Desa Padangsambian Kaja

EKSISTENSI LAMBANG

  1. Lambang Desa Padangsambian Kaja berbentuk segi lima sama sisi yang melukiskan nilai-nilai dari kelima sila Pancasila sebagai dasar Negara dan pandangan hidup Bangsa Indonesia.
  2. Motto yang tertulis dalam pita berbunyi "WIRA DHARMA SABANA" yang artinya secara umum adalah "tulus ikhlas mengabdi/membangun Desa" (padang/sabana). Pita mengikat candi, bambu runcing, padi, kapas, batu dasar dan padang/rumput.
  3. Dalam segi lima tersebut terdapat lukisan/gambar yang merupakan unsur-unsur lambang, seperti:
    • Gambar Tugu/Candi, melambangkan sifat-sifat kejuangan desa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tahun 1945.
    • Bambu runcing (2 batang) melukiskan usaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Para pejuang bersama-sama rakyat bersenjatakan bambu runcing. Pejuang yang gugur disaat itu yang dapat dicatat:
      • A.A. Made Oka (asal Celagigendong, Denpasar)
      • I Gusti Ketut Oka Suji (asal Taensiat, Denpasar)
    • Gambar padang panjang/samana (10), dimaksudkan adalah wilayah/palemahan desa.
    • Batu Kali (8) sebagai pengaman padang/desa. melukiskan bahwa desa ini penuh dengan lapisan batu, sehingga banjar-banjar memakai nama batu (Batuparas, Batukandik, Batu Lepang dan sebagainya)
    • Butir Padi (19) dan Kapas (8), padi melambangkan pangan dan kapas melambangkan sandang, yang merupakan cita-cita kemakmuran rakyat sebagai perwujudan dari keadilan sosial.
    • Bintang segi lima, melambangkan kehidupan masyarakat umat beragama Hindu cukup mantap di wilayah desa ini, sekaligus kerukunannya dengan umar beragama lainnya.
  4. Desa berdiri tanggal 10 Agustus 1982 terlukis dalam satu kesatuan unsur-unsur seperti:
    • Padang/Sabana, berjumlah 10 pucuk
    • Batu Dasar, berjumlah 8 buah
    • Bulir Padi, berjumlah 19 bulir
    • Bunga Kapas, berjumlah 8 pucuk
    • Bambu Runcing, berjumlah 2 batang

WARNA-WARNA LAMBANG

  1. Warna dasar segi lima sama sisi biru, yang melukiskan desa ini tidak jauh dengan kawasan laut.
  2. Padi warna kuning emas berarti melukiskan keluhuran dan agung.
  3. Pita warna merah berarti kewiraan, keberanian bersatu padu.
  4. Candi, bintang, kapas warna putih yang berarti kejujuran dan kesucian.
  5. Garis pinggir segi lima, bambu runcing, tulisan motto dan batu kali warna hitam yang berarti ketegasan, kekuatan, ketangguhan dan tahan uji.
  6. Rumput (padang/sabana) warna hijau berarti harapan kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Lambang ini dipersembahkan sebagai landasan motivasi kejuangan masyarakat desa dalam mengejar cita-citanya yakni:

  • Prosperity (Kesejahteraan), "Parartha gumawa suka ikang rat".
  • Security (Ketertiban, Keamanan), "Nitiasa angulih ulih amrih sutreptining Nagara".